Minggu, 29 Maret 2026

Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Naik 50 persen

Sebulan Perang AS-Iran, Harga Minyak Naik 50 persen

ABATANEWS — Pasar energi global tengah diguncang hebat. Dalam waktu hanya satu bulan sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, harga minyak dunia melonjak lebih dari 50 persen—sebuah kenaikan tajam yang memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas ekonomi global.

Lonjakan ini tak lepas dari keputusan Iran menutup hampir seluruh akses Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak mentah dan gas alam cair dunia setiap harinya. Penutupan ini langsung memukul rantai pasokan energi internasional.

Menurut International Energy Agency (IEA), gangguan di Selat Hormuz kali ini menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Lembaga tersebut bahkan menyerukan langkah darurat berupa pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi.

Baca Juga : Iran Gugat AS atas Serangan ke Fasilitas Nuklir dan Pemberlakuan Sanksi

Sebagai respons, 32 negara anggota IEA sepakat melepas sekitar 400 juta barel minyak—langkah kolektif terbesar yang pernah dilakukan untuk menahan gejolak pasar energi.

Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di kisaran USD72 per barel kini melonjak tajam hingga menembus USD106. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ikut meroket hingga mencapai USD99 per barel.

Kenaikan drastis ini mulai membebani konsumen, terutama di Amerika Serikat. Harga bahan bakar seperti bensin dan solar mengalami lonjakan signifikan, memperbesar tekanan biaya hidup dan operasional di berbagai sektor.

Baca Juga : Iran Kecam Donald Trump Sebut Angkatan Laut AS Seperti Perompak di Selat Hormuz

Tidak hanya itu, dampak krisis energi ini juga merembet ke kebijakan ekonomi global. Bank sentral, termasuk Federal Reserve, kini menghadapi dilema besar: menahan inflasi yang meningkat atau menjaga pertumbuhan ekonomi. Risiko kenaikan suku bunga pun kembali menguat.

Di tengah situasi yang memanas, Presiden Donald Trump memberikan tenggat tambahan selama 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun hingga kini, Iran dilaporkan masih menolak negosiasi langsung dengan Washington dan tetap membatasi lalu lintas kapal di kawasan tersebut.

Dengan belum adanya tanda-tanda deeskalasi, para analis memperkirakan volatilitas harga minyak akan terus berlanjut. Dunia kini berada di ambang krisis energi baru, dengan ketidakpastian yang semakin dalam seiring berlarutnya konflik geopolitik.

Komentar