ABATANEWS, JAKARTA – Isi percakapan grup WhatsApp (WAG) ibu-ibu TNI/Polri yang ditegur Presiden Joko Widodo (Jokowi), diungkap oleh Rocky Gerung.
Pengamat politik itu mengungkapkannya saat menjadi saksi dalam persidangan kasus Mulawarman, di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Menurut Rocky, WAG emak-emak TNI/Polri itu sebetulnya cuma membincang soal pemindahan IKN, yang berimbas pada persoalan pribadi ibu-ibu TNI/Polri.
Baca Juga : Tiga Prajurit TNI Gugur Usai Serangan Israel, DPR Minta Tarik Pasukan TNI dari Lebanon
“Padahal emak-emak di situ cuma saling kritik kalau IKN pindah bagaimana awalnya, ya? Anak saya sekolah di Jakarta, mesti nyari kos-kosan baru ini,” kata Rocky dalam persidangan, kemarin (2/3/2022) sore, melansir CNNIndonesia.com.
Mulanya, Rocky dan Munarman saling menyampaikan pendapat tentang tindakan negara memanfaatkan isu untuk membelah dan mengendalikan masyarakat. Rocky membeberkan sejumlah sikap resistansi negara terhadap kritik.
Ia kemudian mencontohkan sikap Presiden Joko Widodo yang menegur TNI karena ada terdapat percakapan berisi ketidaksetujuan terhadap IKN. Padahal, IKN merupakan keputusan pemerintah.
Baca Juga : Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Seorang Anggota TNI
“Ini TNI kok (disebut) melawan keputusan pemerintah (soal) IKN. Padahal Pak Jokowi cuma baca grup emak-emak,” ujar Rocky.
Menurut Rocky, sikap itu menunjukkan bahwa Jokowi mengalami rasa takut berlebih atau paranoid dan tidak mempercayai efektivitas keputusan pemindahan IKN.
Rocky menilai tindakan Jokowi mengintip grup Whatsapp enak-emak tidak sopan dan berbahaya bagi kebebasan masyarakat.
Baca Juga : Viral Soal Siaga 1, Panglima TNI: Hanya Uji Kesiapsiagaan Prajurit
“Lalu beliau parno karena kepo. Jadi presiden enggak percaya, IKN itu sudah diputuskan ngapain masih ngintip WhatsApp group emak-emak?” sentil Rocky.
“WhatsApp group warga negara diintip oleh kepala negara itu enggak sopan dan berbahaya bagi kebebasan kita,” imbuhnya.
Rocky mengatakan sebenarnya percakapan ibu-ibu TNI di grup WhatsApp mereka merupakan percakapan biasa. Namun, negara merasa terganggu karena merasa tidak boleh ada pikiran yang melawan keputusan Istana.
Baca Juga : Panglima TNI Perintahkan Siaga 1 Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah
“Itu pembicaraan biasa tapi negara merasa terganggu. Karena, negara sudah punya desain bahwa tidak boleh ada pikiran alternatif melawan yang sudah diputuskan oleh Istana,” ujar Rocky.