ABATANEWS, MAKASSAR – Musim kemarau mulai berdampak pada kebutuhan air bersih warga di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sejumlah wilayah tak lagi mendapatkan pasokan air bersih terutama bagi warga yang memanfaatkan sumur resapan.
Berdasarkan data BPBD Kota Makassar, tercatat setidaknya 47.252 jiwa dari 13.929 kepala keluarga terdampak kekeringan. Kondisi itu tersebar di enam kecamatan, yakni Ujung Tanah, Tallo, Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala.
“Dari enam kecamatan, Biringkanaya mencatat jumlah warga terdampak terbesar dengan 14.787 jiwa,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga : Lontara+ Antarkan Diskominfo Makassar Raih Public Service of the Year Sulsel 2026
Sementara Kecamatan Tallo menjadi wilayah kedua terbanyak dengan jumlah warga terdampak kekeringan. Di Tallo, ada setidaknya 10.672 jiwa yang terdampak, Tamalanrea 9.947 jiwa, Manggala 7.601 jiwa, Ujung Tanah 2.921 jiwa, serta Panakkukang 1.324 jiwa.
“Kekeringan datang perlahan, tetapi dampaknya langsung menyentuh kebutuhan paling dasar masyarakat. Karena itu kita tidak boleh menunggu kondisi menjadi lebih berat. Ketika masyarakat kesulitan air, pemerintah harus hadir,” paparnya.
Sebagai bagian dari respons awal, Pemkot Makassar telah mengambil langkah dengan menyalurkan air bersih. Selain itu, penampungan air juga disalurkan di wilayah yang terdampak kekeringan.
Baca Juga : Selamatkan Lahan Pertanian Sulsel, Gubernur Turun Tangan Pastikan Pompanisasi Berjalan
BPBD mencatat sebanyak 17 tandon telah didistribusikan di Ujung Tanah, 8 tandon di Biringkanaya, dan 10 tandon di Tallo. Penempatan tandon dan distribusi air akan terus dievaluasi berdasarkan asesmen lapangan sehingga bantuan dapat diarahkan ke wilayah dengan kebutuhan paling mendesak.
“Operasi juga memberi perhatian khusus kepada kelompok rentan, terutama balita, lansia, ibu hamil dan penyandang disabilitas, sekaligus mengantisipasi gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat keterbatasan air bersih,” pungkasnya.