Kamis, 15 April 2021 13:50

Kontroversi Terawan, Dari Cuci Otak Hingga Vaksin Nusantara

dr Terawan
dr Terawan

ABATANEWS – Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto kembali ramai dibincangkan setelah kontoversi vaksin nusantara mengemuka.

Namun, ini bukan kali pertama Terawan jadi perbincangan luas di tengah masyarakat. Pada 2018, Terawan mulai jadi sorotan setelah ramai terapi cuci otaknya yang menggunakan alat Digital Substraction Angiography (DSA). Terapi yang dilakukan Terawan ini belum teruji secara ilmiah.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melontarkan kritik keras hingga Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) memutuskan Terawan melanggar kode etik dan diberi sanksi pemecatan sementara.

Baca Juga : Bagi yang Ingin Vaksin Booster Kedua, Ini Manfaat yang Disodorkan oleh IDI

Metode Terawan memang belum teruji. Tapi fakta di lapangan, flushing atau DSA yang dilakukan Terawan berhasil menangani sejumlah pasien stroke. Salah satu yang mendapatkan manfaatnya adalah politisi senior Golkar Aburizal Bakrie.

Keputusan MKEK tak bertahan lama. Terawan yang mendapat simpati masyarakat luas akhirnya terbebas dari sanksi dan praktiknya jalan terus. Bahkan, terawan yang menjabat Kepala RSPAD Gatot Subroto kala itu melakukan terapi kepada 1.000 warga Vietnam.

Berselang beberapa lama, tepatnya Oktober 2019 Terawan kembali muncul dan mengagetkan publik saat ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan. IDI kala itu sempat menolak penunjukan Terawan karena kasus kode etik sebelumnya.

Baca Juga : Besok, Masyarakat Sudah Bisa Vaksin COVID-19 Booster Kedua

Namun, Jokowi tetap percaya pada Terawan untuk mengelola sektor kesehatan tanah air. Hingga dunia memasuki krisis kesehatan dengan munculnya Covid-19. Terawan awalnya sering tampil di TV memberikan pernyataan yang belakangan jadi kontroversi. Misalnya, sebelum adanya kasus di Indonesia, Terawan mengatakan hal itu terjadi karena doa dari masyarakat Indonesia.

Saat kasus Covid-19 membuat panik pemerintah dan warga, Terawan kembali menyatakan bahwa masker sejatinya hanya untuk pasien. Sehingga yang sehat tidak perlu untuk memakai. Hal itu pun diralat setelah WHO mengeluarkan anjuran yang berbeda.

Sejak mendapat kritik luas, Terawan mulai jarang muncul di media massa. Informasi soal Covid-19 dari pemerintah disusun rapi melalui juru bicara Satgas Penanganan Covid-19.

Baca Juga : DPR RI Ingatkan Pemerintah, Jangan Terima Vaksin yang Segera Kadaluarsa

Setelah berjalan sekitar 8 bulan, Terawan kembali dipertanyakan karena tak pernah mau berbicara menjelaskan tentang kondisi sebenarnya Covid-19 di Indoensia.

Hingga akhirnya karier Terawan terhenti sebagai menteri, imbas dari reshuffle. Meski tak lagi memiliki jabatan di kabinet, Terawan dan timnya yang sebelumnya menggagas vaksin nusantara terus bekerja.

Lama tak terdengar, kini Terawan kembali jadi buah bibir karena vaksin nusantara besutannya. Hal itu bermula saat Politisi Senayan yang ramai-ramai bersedia menjadi relawan uji klinis vaksin nusantara. Sementara Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) belum mengeluarkan izin uji klinis tahap kedua.

Baca Juga : Polda Gorontalo Gelar Vaksin Massal Sasar Anak-anak, Dewasa, dan Lansia, Penjagub Hamka Beri Apresiasi

BPOM beralasan, hasil uji klinis tahap pertama vaksin nusantara belum sesuai kaidah penelitian. Lagi-lagi Terawan terganjal prosedur. Namun mengapa sejumlah tokoh percaya kepada Terawan?

Aburizal Bakrie menjadi politisi tersohor pertama mau menjadi relawan uji klinis tahap II vaksin nusantara. Juru Bicara Aburizal Bakrie, Lalu Mara Satria Wangsa mebenarkan jika Aburizal telah disuntik vaksin nusantara.

“Beliau menghargai karya anak bangsa. Bukankah itu sejalan dengan permintaan Presiden untuk menghargai produk lokal,” kata Lalu Mara Satria sebelumnya.

Baca Juga : Bupati-Wabup Takalar Dampingi Pangdam Hasanuddin Pantau Vaksin dan Pembagian BLT

Sejumlah anggota Komisi IX yang membidangi kesehatan pun ramai-ramai mendatangi RSPAD Gatot Subroto untuk jadi relawan vaksin. Politisi PDIP Adian Napitupulu secara terang-terangan mengakui dirinya bersedia disuntik vaksin nusantara. Alasannya, karena vaksin tersebut cocok bagi dirinya yang menderita penyakit jantung.

Kini, publik menanti akhir dari perselisihan BPOM dan Terawan dengan vaksin nusantaranya. Akankah vaksin nusantara hanya jadi lembaran penetilian tanpa dimanfaatkan untuk melawan Covid-19. Ataukah, sekali lagi, Terawan membuktikan jika metode penelitiannya efektif. Seperti metode cuci otaknya yang membuat namanya melambung.

Komentar