ABATANEWS, MAKASSAR – Puluhan penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, terdampak penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Penutupan tersebut terjadi akibat penyebaran abu vulkanik usai Gunung Anak Krakatau meletus pada Sabtu (5/9/2026).
Berdasarkan data Bandara Internasional Sultan Hasanuddin hingga Minggu (6/9/2026) malam, tercatat 20 penerbangan kedatangan dan 26 penerbangan keberangkatan dibatalkan. Seluruh penerbangan terdampak merupakan rute dari dan menuju Jakarta melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta tercantum dalam Notice to Airmen (NOTAM) yang berlaku hingga Senin (7/9/2026) pukul 23.59 WIB atau 00.59 WITA.
Baca Juga : PMI Salurkan 1 Juta Masker untuk Warga Terdampak Bencana Erupsi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Kondisi ini membuat pengelola Bandara Sultan Hasanuddin terus memantau perkembangan abu vulkanik dan dampaknya terhadap operasional penerbangan. Pemantauan dilakukan bersama pihak maskapai serta InJourney Airports, termasuk pengelola Bandara Soekarno-Hatta.
Pelaksana Tugas Branch Communication & CSR Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Fascal Ramadhan, menyampaikan bahwa pembaruan informasi penerbangan dilakukan secara berkala. Koordinasi dengan maskapai juga terus berjalan untuk memantau perubahan jadwal maupun kondisi operasional.
“Manajemen bandara menyiapkan contingency plan untuk menghadapi kemungkinan perubahan operasional. Kesiapan tersebut mencakup pelayanan kepada penumpang hingga langkah pemulihan layanan (service recovery) bagi calon penumpang yang terdampak,” ujar Fascal dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/9/2026).
Baca Juga : Kapolri Instruksikan Jajaran Siaga Hadapi Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Selain itu, personel dan fasilitas pelayanan di Bandara Sultan Hasanuddin telah disiagakan untuk melayani penumpang apabila terjadi perubahan jadwal penerbangan lebih lanjut.
Manajemen bandara mengimbau para calon penumpang untuk tidak hanya mengandalkan jadwal penerbangan sebelumnya, melainkan memeriksa kembali status penerbangan kepada maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara. Perkembangan abu vulkanik terus menjadi perhatian utama demi menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan pada rute terdampak.