Minggu, 19 Juli 2026

150 Petani Sawit di Wajo Dapat Pelatihan Teknis Budi Daya

150 Petani Sawit di Wajo Dapat Pelatihan Teknis Budi Daya

ABATANEWS, WAJO — Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekebun dinilai menjadi kunci mempercepat penerapan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan sekaligus mendukung sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Untuk itu, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian melatih 150 pekebun sawit asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang berlangsung pada 14–20 Juli 2026 di Makassar.

Direktur AKPY Sri Gunawan mengatakan peningkatan kualitas SDM pekebun menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri sawit nasional. Menurutnya, pekebun yang memiliki kompetensi memadai akan lebih mampu menerapkan praktik budidaya yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP), meningkatkan produktivitas, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Tahun ini BPDP mendukung pelatihan bagi 15.900 pekebun di seluruh Indonesia melalui sekitar 530 kelas dengan anggaran hampir Rp250 miliar. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas SDM pekebun sawit,” ujarnya.

Sri Gunawan menjelaskan pelatihan ini juga menjadi langkah strategis untuk mempercepat implementasi ISPO di tingkat pekebun rakyat. Para peserta memperoleh materi mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, penggunaan benih unggul bersertifikat, pemupukan berimbang, pengelolaan tanah, konservasi air, hingga pengendalian hama dan penyakit.

Selain itu, peserta dibekali strategi menghadapi perubahan iklim dan ancaman El Niño. Menurut Sri Gunawan, pekebun perlu memahami berbagai langkah mitigasi, seperti membangun embung dan rorak, memanfaatkan pelepah sebagai bahan organik, menjaga kesehatan tanah, serta menerapkan pemupukan secara tepat.

“Kunci mempertahankan produktivitas saat El Niño adalah menjaga ketersediaan air dan kesehatan tanah. Iklim tidak bisa dikendalikan, tetapi tanah dapat dikelola agar tetap sehat sehingga tanaman mampu beradaptasi,” katanya.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, Nurul Fitriany Alimuddin, mengatakan peningkatan kapasitas SDM menjadi strategi penting untuk meningkatkan daya saing sawit rakyat.

Ia mengungkapkan, sejak 2022 hingga 2026 BPDP telah memfasilitasi pelatihan bagi 1.681 pekebun, keluarga pekebun, dan tenaga teknis di Sulawesi Selatan. Khusus Kabupaten Wajo, sebanyak 459 pekebun dijadwalkan mengikuti pelatihan selama periode 2025–2026.

Menurutnya, tantangan utama yang masih dihadapi pekebun adalah penerapan budidaya yang baik, terutama penggunaan benih unggul bersertifikat. Karena itu, hasil pendataan peserta akan dimanfaatkan sebagai dasar pengusulan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) maupun bantuan sarana dan prasarana.

“Kami berharap pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mendorong penerapan budidaya yang baik di lapangan sehingga produktivitas dan kualitas hasil panen meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo Andi Pamereni mengatakan peningkatan kapasitas SDM menjadi kunci menghadapi perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan tuntutan perkebunan berkelanjutan.

Komentar