Selasa, 20 Januari 2026

Tim SAR Ungkap Sulitnya Evakuasi Korban Pertama Pesawat ATR

Tim SAR Ungkap Sulitnya Evakuasi Korban Pertama Pesawat ATR

ABTANEWS, MAKASSAR – Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, mengungkapkan sulitnya mengevakuasi korban pertama pesawat ATR 42-500.

Korban pertama ditemukan pada Minggu (19/1/2026) di kedalaman sekitar 200 meter di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep-Maros, Sulsel, dan baru bisa dievakuasi pada hari ini, Selasa (20/1/2026).

Muhammad Arif Anwar menyampaikan, Tim SAR gabungan melakukan sejumlah upaya dalam mengevakuasi sejak hari pertama penemuan jazat korban.

Baca Juga : Pemprov Sulsel Alokasikan Rp2,5 Miliar Anggaran Operasional Pencarian ATR 42-500

Pertama, dilakukan teknik rappeling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat menabrak punggungan. Di lokasi tersebut, tim menuruni lereng Gunung Bulusaraung dan mencari korban.

“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” ujar Arif, Selasa (20/1/2026).

Sebanyak 10 personel dari unsur Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.

Baca Juga : Operasi SAR Hari Keempat, Tim SAR Fokus Penyisiran Lokasi Temuan Korban dan Puing Pesawat

Salah satu rescuer Basarnas Makassar yang turun langsung ke jurang, Rusmadi, mengungkapkan kondisi yang dihadapi tim di lapangan. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan dengan posisi tersangkut di dahan pohon pada pukul 13.05 WITA, Minggu (18/1/2026).

“Setelah itu, tim melakukan proses packing jenazah selama kurang lebih satu jam karena posisi korban berada di kemiringan kurang lebih 30° dan tepat di bibir tebing,” ujarnya.

Upaya pengangkatan jenazah sempat dilakukan ke arah atas sejauh sekitar 60 meter. Namun karena keterbatasan tenaga, peralatan, serta kondisi hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi lapangan.

Baca Juga : Gubernur Sulsel Tinjau Posko AJU Bersama Menhub dan Kabasarnas: Seluruh Tim Maksimalkan Operasi Pencarian

“Setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” jelas Rusmadi.

Namun selama proses evakuasi ke bawah yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras disertai kabut tebal dan suhu dingin menyelimuti area operasi, membuat pergerakan tim semakin terbatas.

Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.

Baca Juga : Polda Sulsel Kerahkan Tim DVI Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” papar Rusmadi.

Ia menambahkan, pada siang hari berikutnya (19/01), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.

“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujarnya.

Baca Juga : Penampakan Badan dan Roda Pesawat ATR 42-500 Serta Barang Pribadi Korban Ditemukan Tim SAR

Tim kedua yang melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan kampung Lampeso dengan waktu tempuh 20 jam perjalanan pada hari ini. Setelah itu, melanjutkan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju ke Kampung Baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan yang bervariasi (punggungan dan sungai).

“Kemudian dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh kurangleboh 5km untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana dan kemudian akan dievakuasi ke RS Bayangkhara Makassar untuk diserahkan ke pihak DVI,” jelasnya.

Operasi SAR masih terus dilanjutkan dengan mengutamakan keselamatan seluruh personel serta memperhatikan dinamika cuaca dan kondisi medan di lokasi kejadian.

Penulis : Azwar
Komentar