ABATANEWS, MAKASSAR – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap penyebab awal kecelakaan pesawat ATR 42-500. Pesawat rute Yogyakarta-Makassar itu diduga menghantam lereng gunung Bulusaraung, di Kabupaten Pangkep, Sabtu (17/1/2026).
Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengatakan, indikasi awal pesawat masih masih dalam pengendalian pilot. Namun, terdapat kondisi tertentu yang membuat pesawat tidak berada dalam kendali penuh (uncontrolled).
“Ada dugaan kuat pesawat menghantam bukit atau lereng. Pilot masih bisa melakukan kontrol, tetapi tidak dalam kendali penuh,” ungkap Soerjanto Tjahjono dalam konferensi pers di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Minggu (18/1/2026).
Baca Juga : Menhub Apresiasi Kerja Tim SAR Gabungan saat Tinjau Langsung Evakuasi Pesawat ATR 42-500
Meski dugaan awal sudah muncul, Soerjanto menegaskan bahwa status resmi penyebab kecelakaan baru akan dikeluarkan setelah bukti fisik dan data dari kotak hitam berhasil dianalisis.
Sehingga, KNKT meminta kepada Tim SAR Gabungan yang melakukan pencarian fokus juga mencari black box pesawat. Sebab, alat tersebut menjadi salah satu yang penting untuk mengungkap penyebab kecelakaan ini.
“Fokus utamanya adalah menemukan kotak hitam atau black box. Black box tempatnya ada di ekor pesawat. Sementara kan, ekor pesawat yang ditemukan dalam kondisi hancur. Makanya saya menitip secara khusus kepada tim di lapangan untuk mencari benda tersebut,” jelasnya.
Diketahui, sjumlah serpihan pesawat rute Yogyakarta-Makassar ini telah ditemukan Tim SAR Gabungan di lereng Gunung Bulusaraung. Diantaranya badan pesawat hingga ekor pesawat yang sudah hancur.
Penemuan ini memastikan pesawat mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung. Sehingga, Tim SAR kini fokus mencari korban yang mana pesawat tersebut membawa 7 kru dan 3 penumpang.