ABATANEWS, MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) menggelar Penilaian Kinerja 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan di Provinsi Sulsel Tahun 2024.
Plh Kepala Bappelitbangda Sulsel, Andi Bakti Haruni, mengatakan, pelaksnaaan kegiatan ini bertujuan untuk melaksanakan evaluasi kinerja pemerintah kabupaten/kota dalam melaksanakan 8 aksi konvergensi percepatan penurunan stunting dan sebagai bahan perbaikan untuk melaksanakan 8 aksi konvergensi di tahun-tahun yang akan datang.
“Inti dari kegiatan ini ada tiga. Pertama mengevaluasi kinerja, kedua kita ingin memastikan akuntabilitas apa yang dikerjakan bisa dipertanggungjawabkan, ketiga ingin mengapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah kabupaten/kota,” kata Andi Bakti sekaligus Ketua Panitia Penilaian Kinerja 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting.
Baca Juga : IIFS 2026, Gubernur Andi Sudirman Dorong Produk Unggulan Daerah Tembus Pasar Industri Halal Global
Andi Bakti mengapresiasi beberapa inovasi yang dilakukan kabupaten/kota dalam penurunan stunting. Pihaknya juga berharap pemerintah kabupaten/kota memperhatikan pengelolaan data terkait 8 Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting.
Adapun hasil evaluasi peniilaian kinerja 8 aksi konvergensi stunting akan disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri RI untuk dilakukan evaluasi lanjutan.
Pj Gubernur Sulsel, Prof Zudan Arif Fakrulloh yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan yang Juga Plt Kepala Dinas Sosial Sulsel, Abdul Malik Faisal, mengatakan, masih ada beberapa daerah di Sulsel yang mengalami kenaikan angka stunting dari tahun 2022 ke 2023 lalu.
Baca Juga : SYAFIF Goes to Makassar, Pemprov Sulsel Dorong Penguatan Ekonomi Syariah
“Kalau kita lihat datanya ada daerah yang naik dan turun. Kalau datanya yang naik, seperti Enrekang dan Tana Toraja. Sementara yang mengalami penurunan juga ada diantaranya Luwu Utara dan Gowa,” kata Malik Faisal.
Dari data yang ada, 11 kabupaten/kota mengalami peningkatan dan 13 kabupaten/kota mengalami penurunan. Penurunan tertinggi terdapat pada Kabupaten Luwu Utara (14,3%), Gowa (11,9%) , Bantaeng (6,3%). Peningkatan tertinggi pada Kabupaten Enrekang ( 8,5%), Barru (8%) dan Makassar (7,2%).
Prevalensi stunting di Sulsel masih berada di tingkat yang cukup tinggi. Data survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting di Sulsel sebesar 27.4 persen, mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya
Baca Juga : Gubernur Sulsel Bersama Kepala OJK Lepas Ribuan Peserta Jalan Sehat Anti Mager Cinta Keuangan Syariah
“Pak Pj Gubernur menaruh perhatian penuh pada persoalan stunting ini. Target nasional 2025 untuk Sulsel itu 23,8 persen, kita optimistis tahun ini sudah turun di bawah 20 persen, memang harus kerja keras,” kata Malik Faisal.
Dalam kesempatan itu, Pj Gubernur menitipkan 4 hal yang perlu diperhatikan dalam percepatan penurunan stunting di Sulsel. Pertama, peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan, terutama ibu hamil, bayi dan balita.
Kedua, peningkatan gizi ibu hamil dan anak balita. Ketiga, peningkatan akses air bersih dan sanitasi. Dan terakhir, peningkatan pendidikan dan kesadaran masyarakat berupa edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya gizi dan kesehatan.
Baca Juga : Bakti Sosial Rutin DWP Sulsel, Wujud Kehadiran sebagai Mitra Pemerintah di Tengah Masyarakat