Kamis, 15 Januari 2026

Mata Uang Iran Terus Anjlok, Rp1.000 Setara 63.000 Riyal Iran

Mata Uang Iran Terus Anjlok, Rp1.000 Setara 63.000 Riyal Iran

ABATANEWS, IRAN — Nilai tukar rial Iran anjlok ke level terendah sepanjang sejarah hingga menjadikannya sebagai mata uang terlemah. Hal itu membuat barang-barang kebutuhan pokok menjadi tidak terjangkau bagi sebagian besar penduduk hingga menyebabkan munculnya gelombang demonstrasi yang masih berlanjut hingga saat ini.

Dilansir dari Bloomberg, Kamis (15/1/2026), nilai rial merosot sekitar 45% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2025. Kondisi itu membuat impor termasuk gandum, minyak goreng dan bahan-bahan farmasi menjadi lebih mahal hingga direspons oleh pedagang dengan menaikkan harga.

Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), inflasi Iran rata-rata sekitar 42% pada tahun 2025 atau meningkat dari 33% pada 2024. Banyak warga sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pangan mereka hingga media lokal melaporkan setengah dari populasi mengkonsumsi kurang dari standar 2.100 kalori per hari.

Baca Juga : Donald Trump Ancaman Kembali Serang Iran Jika Perlu

“Industri nasional telah merosot karena korupsi dan salah urus,” tulis pemberitaan Bloomberg.

Tidak hanya soal pangan, kemarahan warga Iran yang meluas juga akibat kekurangan gas dan listrik, serta salah urus sumber daya alam (SDA) negara. Pemerintah menyesuaikan mekanisme subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada Desember 2025 yang menyebabkan kenaikan harga hingga menambah biaya bagi rumah tangga dan bisnis.

Berdasarkan kalkulator kurs milik Wise, Rp 1 senilai 2,49 riyal Iran. Sementara berdasarkan kalkulator kurs milik XE, Rp 1 senilai 63 riyal Iran. Jika berdasarkan perhitungan kalkulator milik Google, Rp 1 senilai 63,12 riyal Iran, tidak jauh berbeda dengan kalkulator milik XE. Jadi kalau punya Rp 1.000, sama dengan 63.000 riyal Iran.

Baca Juga : Genjatan Senjata Donald Trump Tidak Jelas, Israel Kembali Serang Iran

Berdasarkan pemberitaan Euro News, kurs nasional Iran pada Februari 2024 turun sekitar 13% sejak Januari 2024 dan terus anjlok sejak konflik Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023. Hanya saja pemerintah Iran memilih mengabaikan nilai tukar mata uang global.

Kementerian Urusan Ekonomi dan Keuangan saat itu menyatakan “Kami tidak mengakui nilai tukar pasar bebas secara resmi”. Lewat pernyataan itu, pemerintah Iran hanya mengakui nilai tukar pemerintah yang diatur oleh Iran Center for Exchange sebagai nilai tukar resmi.

Menurut pemerintah, strategi itu untuk menjaga Riyal tetap stabil di pasar mata uang internasional. Pemerintah mengklaim strategi yang dilakukan berhasil, namun kenyataan di pasar menunjukkan sebaliknya karena mata uang asing dengan kurs pemerintah yang lebih rendah sulit didapatkan, sebagian besar orang terpaksa beralih ke pasar gelap untuk mendapat dolar AS.

Baca Juga : Trump Sebut Serangan Iran di Qatar “Lemah”, Serukan Perdamaian di Timur Tengah

Langkah itu tentunya berisiko karena pemerintah Iran telah menindak sejumlah transaksi yang dinilai tidak sah termasuk pertukaran yang dilakukan secara virtual. Kantor pertukaran di ibu kota Teheran juga tidak boleh membagikan kurs kepada publik, juga tidak boleh menjual mata uang asing ke publik.

Komentar
Baca Juga
  • Jerman, Inggris, dan Prancis Tawarkan Negosiasi Soal Program Nuklir Iran

    Jerman, Inggris, dan Prancis Tawarkan Negosiasi Soal Program Nuklir Iran

  • Menteri Pertahanan Israel Ancam Bakar Teheran Jika Serangan Iran Terus Berlanjut

    Menteri Pertahanan Israel Ancam Bakar Teheran Jika Serangan Iran Terus Berlanjut

  • Iran Gempur Israel Dengan Rudal, Netanyahu Dikabarkan Kabur ke Yunani

    Iran Gempur Israel Dengan Rudal, Netanyahu Dikabarkan Kabur ke Yunani

  • Israel Balas Iran: Serang 20 Fasilitas Militer di 3 Provinsi

    Israel Balas Iran: Serang 20 Fasilitas Militer di 3 Provinsi