ABATANEWS, MAKASSAR – Pakaian “blink-blink” yang dikenakan sebagian jemaah haji asal Bugis-Makassar saat pulang dari Tanah Suci kembali menjadi sorotan. Sebagian menilai busana mencolok itu sebagai bentuk pamer kemewahan.
Namun, anggapan itu dibantah Hj. Dahliah, jemaah asal Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, yang tergabung dalam Kloter 09 Debarkasi UPG Makassar.
Hj. Dahliah menyampaikan hal itu sesaat sebelum prosesi serah terima Kloter 09 UPG di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar pada Senin pagi 8 Juni 2026.
Baca Juga : Kloter 43 Tiba, PPIH Resmi Tutup Operasional Debarkasi Makassar
“Tidak ada sama sekali rasa sombong dan ingin pamer. Ini bentuk rasa syukur karena sudah kembali dengan selamat,” ucapnya.
Dikatakan, pakaian berhias manik-manik (swarovski) yang dikenakan saat pulang haji sudah menjadi tradisi lama di tengah masyarakat Bugis-Makassar. Busana itu dipakai untuk mengekspresikan kebahagiaan setelah menuntaskan ibadah haji.
“Pulang dengan tampilan pakaian begini bukan berarti pamer. Tidak ada sama sekali masksud riya. Tidak ada itu,” katanya.
Baca Juga : Pemulangan Jemaah Haji Debarkasi Makassar Segera Tuntas, Tinggal Satu Kloter
Ia mengaku pakaian tersebut bahkan telah disiapkan sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Pakaiannya memang dibeli di Makassar sebelum berangkat. Memakai pakaian ini semata-mata karena ekspresi rasa syukur saja,” lanjutnya.
Hj. Dahliah yang berangkat haji bersama sembilan anggota keluarga dekatnya meminta masyarakat tidak terburu-buru menilai tradisi tersebut secara negatif.
Baca Juga : Pulang Tinggal Koper Bersama Kloter 38, Dokter Jemaah Haji Asal Sulawesi Tenggara Wafat di Tanah Suci
“Saya rasa ini kembali ke pribadi masing-masing, tergantung niatnya. Saya bahagia, saya bersyukur, jadi saya pakai,” tuturnya.
Diketahui, di Sulawesi Selatan, tradisi menyambut kepulangan haji memang kerap berlangsung meriah, sehingga para jemaah haji pun merasa berkewajiban untuk tampil sebaik mungkin saat bersua dengan keluarganya.
Dalam pandangan agama, mengenakan pakaian indah tidak dilarang selama tidak disertai niat sombong atau merendahkan orang lain.
Baca Juga : Kloter 32 Asal Kendari Kembali ke Tanah Air, Satu Jemaah Wafat di Tanah Suci
Islam juga mengajarkan bahwa Allah menyukai keindahan, namun tetap menekankan kesederhanaan dan ketulusan niat.
Karena itu, tradisi “blink-blink” bagi sebagian masyarakat Bugis-Makassar lebih dipahami sebagai ekspresi budaya dan rasa syukur, bukan pamer kemewahan.