Sabtu, 14 Maret 2026

Daeng Manye Setahun Berbenah, Pendidikan Takalar Berhasil Tinggalkan Zona Terbawah

Daeng Manye Setahun Berbenah, Pendidikan Takalar Berhasil Tinggalkan Zona Terbawah

ABATANEWS, TAKALAR — Setahun lalu, dunia pendidikan di Kabupaten Takalar berada pada posisi yang kurang membanggakan. Dalam peta pendidikan Sulawesi Selatan, daerah ini tercatat berada di peringkat dua terbawah dalam capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan.

Bagi kami para kepala sekolah, fakta tersebut bukan sekadar angka statistik.

Itu menjadi cerminan bahwa sistem pendidikan yang berjalan masih belum optimal. Kondisi itu sempat menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan rasa malu. Namun justru dari titik itulah semangat untuk melakukan perubahan mulai tumbuh.

Baca Juga : Pemkab Takalar Tunjukkan Dukungan Nyata Program Ketahanan Pangan

Perubahan tersebut bermula dari sebuah langkah yang tampak sederhana, namun memiliki dampak besar.

Suatu waktu, Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengumpulkan seluruh kepala sekolah dalam sebuah pertemuan. Instruksinya cukup singkat namun tidak biasa: setiap kepala sekolah diminta hadir tanpa didampingi operator sekolah.

Bagi sebagian orang, hal itu mungkin terlihat sepele. Namun bagi kami para kepala sekolah, momen tersebut cukup menegangkan. Selama ini, urusan data pendidikan sering kali dianggap sebagai wilayah operator sekolah, sementara kepala sekolah lebih fokus pada administrasi dan operasional harian.

Baca Juga : Kunjungi Korban Puting beliung, Bupati Takalar Serahkan Bantuan

Dalam pertemuan tersebut, beberapa kepala sekolah diminta mempresentasikan hasil Rapor Pendidikan sekolah masing-masing.

Di situlah realitas terlihat dengan jelas. Masih ada kepala sekolah yang belum sepenuhnya memahami data sekolahnya sendiri, bahkan belum terbiasa membuka dan membaca laporan Rapor Pendidikan secara mandiri.

Situasi itu menjadi tamparan bagi kami semua. Bupati Takalar kemudian menyampaikan pesan sederhana namun sangat mendasar: bagaimana mungkin sekolah dapat berkembang jika pemimpinnya sendiri tidak memahami data yang menjadi dasar pengambilan keputusan?

Baca Juga : Bupati Takalar Tekankan ASN Bergerak Cepat Wujudkan Tata Kelola Modern

Pesan tersebut terasa menohok, tetapi justru itulah yang kami butuhkan. Selama ini, kita sering berbicara tentang peningkatan mutu pendidikan, tetapi lupa bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa kepemimpinan yang memahami persoalan secara nyata.

Rapor Pendidikan sebenarnya bukan sekadar laporan tahunan. Di dalamnya terdapat peta kondisi sekolah, mulai dari capaian literasi, kemampuan numerasi, hingga kualitas lingkungan belajar. Jika data tersebut tidak dipahami oleh kepala sekolah, maka arah pengembangan sekolah menjadi tidak jelas.

Momentum itulah yang kemudian mendorong perubahan budaya di sekolah-sekolah di Takalar. Melalui

Baca Juga : Takalar Bersiap Jadi Pusat Perikanan Terpadu Indonesia Timur

Dinas Pendidikan dan para pengawas sekolah, pendampingan mulai dilakukan secara lebih intensif. Kepala sekolah didorong untuk memahami berbagai indikator dalam Rapor Pendidikan, termasuk literasi, numerasi, serta kualitas pembelajaran.

Diskusi tentang data pendidikan pun mulai menjadi hal yang biasa di lingkungan sekolah. Kami belajar melihat persoalan pendidikan secara lebih objektif, tidak lagi hanya berdasarkan asumsi.

Perubahan cara berpikir ini perlahan berdampak pada proses perencanaan program di sekolah. Penyusunan anggaran melalui ARKAS, misalnya, tidak lagi sekadar rutinitas administratif, tetapi mulai disusun berdasarkan kebutuhan nyata yang terlihat dalam data pendidikan.

Baca Juga : Takalar Gaet Investor China, Perkenalkan Potensi Unggulan Pertanian

Para guru juga mulai terbiasa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran di kelas. Meski perubahan ini tidak langsung terlihat dalam waktu singkat, proses tersebut perlahan membangun fondasi baru dalam tata kelola pendidikan di sekolah.

Hasilnya mulai terlihat pada capaian terbaru pendidikan di Kabupaten Takalar. Daerah ini berhasil melonjak ke peringkat pertama dalam kategori

Tuntas Madya pada capaian Standar Pelayanan Minimal pendidikan.Bagi kami di sekolah, capaian ini bukan sekadar prestasi administratif.

Baca Juga : Hardiknas 2026, Sekda Takalar Tekankan Kolaborasi untuk Pendidikan Bermutu

Di balik angka tersebut, terdapat perubahan nyata yang mulai dirasakan. Kemampuan literasi dan numerasi siswa meningkat, lingkungan belajar menjadi lebih aman dan inklusif, serta guru semakin terbiasa mengevaluasi metode pembelajaran mereka.

Yang tidak kalah penting, para kepala sekolah kini mulai lebih akrab dengan data. Perubahan ini menunjukkan satu hal penting: reformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan yang rumit.

Terkadang, perubahan justru dimulai dari langkah sederhana—memastikan para pemimpin sekolah memahami kondisi sekolahnya sendiri melalui data.

Baca Juga : Wabup Takalar Lepas Peserta Jalan Santai Hardiknas 2026

Takalar pernah berada di posisi yang kurang membanggakan dalam peta pendidikan Sulawesi Selatan. Namun pengalaman setahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi jika ada keberanian untuk mengakui masalah dan kemauan untuk memperbaikinya.

Komentar