ABATANEWS, TAKALAR — Pergelaran seni Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar menjadi momentum istimewa yang mempertemukan 24 pondok pesantren dalam satu panggung kebersamaan, kreativitas, dan persaudaraan.
Festival yang digagas oleh Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni dan perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa pondok pesantren bukan hanya benteng moral dan pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga tempat tumbuhnya peradaban, inovasi, kreativitas, serta karya generasi muda Islam.
Melalui festival ini, berbagai potensi santri dari pondok pesantren di Kabupaten Takalar dipertemukan dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan.
Baca Juga : Peduli Pramuka, Bupati Takalar Gelar Lomba Maju Pramuka
Kegiatan ini mempertemukan tradisi keilmuan, karakter pendidikan, kekayaan kreativitas, serta semangat berkarya dari berbagai pondok pesantren.
“Setiap pesantren memiliki keunggulan dan karakter tersendiri. Ada yang menonjol dalam pembelajaran Al-Qur’an, pengembangan seni dan keterampilan, pembentukan karakter dan kepemimpinan, hingga upaya mempersiapkan santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam,” kata Bupati Takalar.
Festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial yang hanya menghadirkan kemeriahan selama tiga hari. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menjadi awal lahirnya tradisi positif yang mempertemukan pesantren secara berkelanjutan.
Baca Juga : PB HIPERMATA Apresiasi Dukungan Bupati Takalar Terhadap Kegiatan Kepemudaan
Tradisi untuk mengapresiasi karya santri, membuka ruang kolaborasi, memperkuat persaudaraan antarpesantren, serta membangun hubungan yang semakin erat antara pendidikan pesantren dan pembangunan daerah.
Gagasan Bupati Takalar, Daeng Manye, melalui festival ini juga menjadi pesan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan penguatan karakter, pendidikan, kebudayaan, dan kualitas sumber daya manusia.
Santri memiliki potensi besar untuk menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, kreatif, kritis, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Baca Juga : Pemkab Takalar Matangkan Proyek PLTS 100 MW Bersama PLN
Melalui panggung seni dan kreativitas, para santri diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membuktikan bahwa nilai-nilai keislaman dapat berjalan beriringan dengan inovasi dan perkembangan zaman.