Selasa, 29 September 2026

MYP Irigasi Pemprov Sulsel Bikin Petani Optimis Produksi Padi Meningkat

Rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae, Kabupaten Bulukumba, yang merupakan bagian dari Paket 1 program MYP Pemprov Sulsel 2025–2027.
Rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae, Kabupaten Bulukumba, yang merupakan bagian dari Paket 1 program MYP Pemprov Sulsel 2025–2027.

ABATANEWS, BULUKUMBA – Rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Bontonyeleng dan Palang Barae, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan menunjukkan progres signifikan. Pembangunan ini merupakan bagian dari Paket 1 program Multi Years Project (MYP) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) 2025–2027.

Pekerjaan jaringan irigasi saat ini telah mencapai sekitar 1,1 kilometer dari total panjang pengerjaan 2,5 kilometer. Jaringan irigasi ini ditargetkan mampu mengairi lahan persawahan seluas kurang lebih 1.200 hektare.

Kepala Desa Bontonyeleng, Andi Baso Mauragawali, mengatakan keberadaan jaringan irigasi tersebut tidak hanya membantu mengairi lahan pertanian yang selama ini telah digarap, tetapi juga berpotensi membuka lahan baru setelah pembangunan rampung.

Baca Juga : Bupati Gowa Tersangka Tapi Belum Ditahan, Gubernur Sulsel Tegaskan Sitti Husniah Talenrang Tetap Jalankan Tugas

“Selain bisa mengaliri lahan saat ini, juga bisa mengaliri lahan baru apabila pekerjaan ini sudah selesai,” kata Andi Baso, Senin 27 September 2026.

Menurut dia, peningkatan ketersediaan air irigasi berpotensi berdampak terhadap peningkatan produksi pertanian masyarakat.

“Dampak dari ini ada peningkatan produksi jika ini selesai. Bukan hanya berhenti di sini karena memang luasan persawahan kami ini sangat luas. Ada dua desa yang berdampak, Desa Bontonyeleng dan Palang Barae,” ujarnya.

Baca Juga : Jalan Aroepala Dibuka Full, Gubernur Sulsel: Akses Lalu Lintas Gowa-Makassar Makin Lancar

Petani Desa Bontonyeleng, Jamaluddin, mengatakan kondisi petani sebelumnya cukup sulit karena jaringan irigasi belum mampu menjangkau lahan yang berada di bagian hilir.

“Kondisi kami sebelum ada irigasi ini, keadaan petani memang sangat memprihatinkan karena akses irigasi tidak bisa sampai ke hilir,” kata Jamaluddin.

Dengan pembangunan jaringan irigasi tersebut, ia berharap frekuensi tanam padi dapat meningkat. Saat ini, petani umumnya hanya dapat menggarap sawah dua kali dalam setahun.

Baca Juga : Gubernur Andi Sudirman Pastikan Perubahan APBD 2026 Perkuat Fiskal dan Pelayanan Publik

“Dengan adanya irigasi ini, dari potensi garap sawah dua kali mudah-mudahan bisa sampai tiga kali nanti, khususnya tanam padi,” ujarnya.

Menurut Jamaluddin, peningkatan frekuensi tanam diharapkan dapat berdampak langsung terhadap pendapatan petani.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan atas pembangunan jaringan irigasi tersebut.

Baca Juga : Bupati Gowa Tersangka, Gubernur Sulsel: Wakil Menjalankan Pemerintahan Sementara hingga Ada Penetapan Plt

“Terima kasih kepada pemerintah dan dinas atas bantuannya ini. Terima kasih khusus kepada Pemerintah Provinsi dan terima kasih banyak kepada Bapak Gubernur atas bantuan ke desa kami,” katanya.

Manfaat pembangunan irigasi juga diharapkan dirasakan generasi muda di Desa Bontonyeleng.

Petani muda Desa Bontonyeleng, Madasari, mengatakan sektor pertanian di wilayahnya masih memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.

Baca Juga : Gubernur Sulsel Bawa Pengalaman Digitalisasi Keuangan ke Forum Nasional FEKDI x IFSE 2026

Namun, keterbatasan infrastruktur pertanian selama ini menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat, termasuk generasi muda yang ingin mengembangkan usaha pertanian di desa.

“Kondisi pertanian di Bontonyeleng masih cukup memprihatinkan, tetapi dengan adanya bantuan dari Pemerintah Provinsi ini bisa menggerakkan petani muda agar tidak keluar dari desa dan bisa membangun potensi pertanian yang ada di desa,” kata Madasari.

Ia berharap pembangunan irigasi dapat membuka peluang lebih besar bagi generasi muda untuk tetap tinggal dan mengembangkan sektor pertanian di daerahnya.

Baca Juga : Harga Cabai Rawit di Makassar Capai Melonjak, TPID Sulsel Siapkan Gerakan Pangan Murah

Menurut dia, ketersediaan infrastruktur irigasi dapat menjadi salah satu faktor pendukung bagi petani muda untuk melihat pertanian sebagai sektor yang memiliki prospek ekonomi.

“Saya berharap dengan adanya irigasi ini bisa memenuhi kebutuhan petani agar petani penerus mendapatkan kehidupan yang layak,” ujarnya.

Madasari juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan atas pembangunan jaringan irigasi yang dinilai dapat mendukung aktivitas pertanian masyarakat.

Baca Juga : Gubernur Sulsel bersama Sejumlah Tokoh Bangsa Hadiri Hari Nasional ke-96 Kerajaan Arab Saudi

“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Gubernur Sulawesi Selatan Bapak Andi Sudirman Sulaiman atas bantuan yang diberikan kepada masyarakat Desa Bontonyeleng,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Pemprov Sulsel mengalokasikan anggaran Rp780 miliar untuk merehabilitasi sejumlah jaringan irigasi yang melayani 54.000 hektare sawah. Derah irigasi ini tersebar di Kabupaten Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur.

Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menjelaskan, program recovery ini dilakukan lantaran mayoritas infrastruktur irigasi eksisting telah mengalami penurunan fungsi hingga tinggal tersisa 50 persen. Kerusakan pada bendung serta penyumbatan aliran kerap membuat pasokan air gagal mencapai area persawahan di tingkat hilir maupun tersier.

Baca Juga : Program Pelajar Sulsel Menabung Resmi Dimulai, Sasar 1.000 Pelajar di 20 Sekolah

Penormalan jaringan irigasi ini diproyeksikan mampu mendongkrak Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pertanian secara signifikan. Ketersediaan air memungkinkan para petani meningkatkan frekuensi masa tanam hingga dua sampai tiga kali dalam setahun.

“Para petani bisa lima kali dalam dua tahun, atau tiga kali setahun, atau minimal dua kali setahun untuk bercocok tanam sampai panen,” kata Andi Sudirman beberapa waktu lalu.

Penulis : Azwar
Komentar