ABATANEWS, MAKASSAR – Di antara ribuan pegawai Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengikuti Pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap I Tahun 2024 di pelataran Kantor Gubernur Sulsel, Kamis, 31 Juli 2025, sosok Lalu Syafii menarik perhatian.
Pria kelahiran Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur, itu menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai ASN PPPK hanya tiga bulan sebelum memasuki masa pensiun. Namun, semangat pengabdiannya tetap menyala.
“Saya merasa bangga, pemerintah masih memperhatikan kami ini. Saya bersyukur sekali, jelang pensiun dilantik sebagai PPPK,” ucapnya penuh semangat.
Baca Juga : Pengerjaan Drainase Jalan Aroepala Dikebut, Gubernur Sulsel: Kita Maksimalkan Saluran Drainasenya
Lalu Syafii telah mengabdi di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel sejak 2015 sebagai tenaga honorer. Ia dikenal sebagai sosok yang disiplin, tangguh, dan selalu siap terjun dalam situasi darurat.
Momen pelantikan itu menjadi semakin berkesan saat Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, memanggilnya secara khusus ke depan barisan untuk menerima hadiah.
“Saya kaget sekaligus bangga. Terharu juga. Pak Gubernur masih melihat kami yang di bawah. Doakan beliau selalu sehat dan bisa terus membawa Sulsel lebih maju,” ujarnya haru.
Baca Juga : TP PKK Sulsel Gelar Rakor, Bahas Program Pokok dan Persiapan Agenda Nasional 2026
Meskipun waktu pengabdiannya secara administratif akan segera berakhir, Syafii menyatakan tetap siap bekerja kapan pun dibutuhkan. Saat pensiun pun nanti akan tetap terlibat dalam potensi SAR.
“Di Sulsel ini masih banyak potensi SAR. Selama saya mampu, saya akan terus mengabdi,” tegasnya.
Salah satu pengalaman paling membekas bagi Syafii adalah saat ditugaskan ke Palu pada 2018 usai gempa dan tsunami mengguncang Sulawesi Tengah.
Baca Juga : Sulsel Tetapkan DIP-DIK 2026, 53 Kategori Informasi Wajib Dibuka ke Publik
“Selama dua minggu, saya dan tim mengevakuasi ratusan jenazah. Berat, tapi saya merasa bangga bisa membantu sesama,” kenangnya.
Panggilan hati untuk dunia kemanusiaan telah tumbuh sejak kecil. Saat konflik Timor-Timor pecah tahun 1975, Syafii yang kala itu duduk di bangku kelas 4 SD sudah terbiasa melihat lingkungan asramanya membantu para korban luka dan pengungsi.
“Itu menumbuhkan jiwa kemanusiaan saya sejak dini,” ujarnya.
Baca Juga : Musrenbang Sulsel 2025–2029 Resmi Dibuka, Gubernur Sulsel Sebut Akselerasi Pembangunan Dimulai 2027
Syafii menamatkan sekolah menengahnya di SMA Cokroaminoto Palopo. Ia aktif di kegiatan remaja pecinta lingkungan. Ia sebelum di BPBD Sulsel juga sempat terlibat selama 10 tahun dalam program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM).
“Kemanusiaan itu bukan sekadar pekerjaan, tapi memang sudah hobi dan jalan hidup saya,” ucapnya.
Kepala BPBD Sulsel, Amson Padolo, memberikan penilaian khusus terhadap Syafii. “Beliau adalah salah satu petugas TRC (Tim Reaksi Cepat) yang handal. Kinerjanya bagus, rajin, dan sangat bisa diandalkan di lapangan,” ungkap Amson.