Rabu, 06 April 2022 08:15

Ini Dampak Positif usai Kurikulum Merdeka Diterapkan

Ini Dampak Positif usai Kurikulum Merdeka Diterapkan 

ABATANEWS, JAKARTA – Sejumlah dampak positif dihasilkan setelah Kurikulum Merdeka diterapkan pada tahun 2022 ini. Salah satunya, adalah pola pikir murid.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Anindito Aditomo mengatakan. Kurikulum adaptif menurutnya mengedepankan karakter serta kompetensi yang mendasar pada diri anak.

“Dengan pola pikir yang adaptif, apapun masalah yang dihadapi mereka bisa diatasi secara mandiri karena mereka bisa berdiri di atas kekuatannya sendiri,” tutur Anindito pada acara Ngobrol Tempo, di Jakarta secara virtual beberapa hari lalu.

Baca Juga : Kemendikbudristek Pastikan Pramuka Tetap Menjadi Ekstrakurikuler yang Wajib Disediakan Sekolah

Tak hanya itu, Dewan Pembina PGRI, Dudung Nurullah Koswara menyampaikan implementasi Kurikulum Merdeka memberikan perubahan besar terhadap guru dan siswa. Dengan mengedepankan proses pembelajaran yang esensial dan minat bakat.

Proses ini, akan menjadi sebuah interaksi yang sesuai dan menciptakan ruang pembelajaran yang lebih positif. sehingga dampak yang terjadi dengan Implementasi Kurikulum Merdeka membuat proses pembelajaran di ruang kelas terasa lebih merdeka.

Hal ini tentunya akan melahirkan masyarakat yang berkembang secara positif dengan cara yang lebih merdeka di masa mendatang. Bahkan, kurikulum ini memberikan proses pewarisan melalui proses pembelajaran yang lebih baik dan menarik.

Baca Juga : Kemendikbudristek Buka Pendaftaran PPG Prajabatan Gelombang 3 Tahun 2023

Kurikulum Merdeka menciptakan ruang terbuka belajar yang membuat karakteristik dan kompetensi didiagnosa sehingga proses belajar bukan pukul rata. Anak bukan bagian dari industri pendidikan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Panitera Umum Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, Ki Saur Panjaitan XIII, menambahkan. Implementasi Kurikulum Merdeka diejawantahkan oleh Taman Siswa Ki Hajar dalam bentuk saling menghargai keragaman budaya Indonesia sebagai kebudayaan nasional.

“(Jika kurikulum dianalogikan) dengan budaya, budaya kita sangat banyak sekali namun bukan untuk membeda-bedakan tetapi untuk memperkuat dan memperkokoh menjadi kebudayaan nasional,” pungkas Ki Saur.

Penulis : Redaksi
Komentar