Selamatkan Warisan Leluhur: Situs Prasejarah Toraja dan Maros Terancam Karhutla

ABATANEWS, MAKASSAR – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Sulawesi Selatan belum lama ini meninggalkan luka mendalam bagi dunia pelestarian sejarah.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyampaikan keprihatinannya yang mendalam setelah si jago merah melahap kawasan penting di Toraja Utara serta Taman Nasional (TN) Bantimurung-Bulusaraung di wilayah Pangkep-Maros.
Musibah di Toraja Utara bermula di Dusun Salurea Rangri, Kelurahan Baruppu Utara, Kecamatan Baruppu, pada Jumat (23/10). Naasnya, kobaran api turut membakar area makam batu kuno yang terletak di tebing curam Baruppu.
Sebelumnya, bencana serupa juga menghantam TN Bantimurung-Bulusaraung pada awal Oktober 2026. Peristiwa tersebut sempat mengancam situs-situs prasejarah bernilai tinggi yang menyimpan jejak seni cadas purba.
Salah satunya adalah lukisan dinding gua berusia sekitar 51.200 tahun yang diakui sebagai salah satu karya seni tertua di dunia.
Menanggapi insiden ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa pihak kementerian saat ini sedang menginventarisasi data komprehensif terkait dampak kerusakan di berbagai situs bersejarah tersebut. Langkah ini diambil sebagai landasan awal untuk merancang upaya pemulihan dan restorasi yang tepat.
“Tentu ini situasi yang sangat memprihatinkan. Kami sedang menghimpun data terkait hal ini untuk menentukan langkah pemulihan dan restorasi terbaik yang bisa dilakukan,” ujar Fadli Zon saat ditemui di Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Selasa (27/10/2026).
Lebih lanjut, ia menyoroti dua pemicu utama di balik musibah Karhutla. Pertama, faktor kelalaian atau kesengajaan manusia yang membuka lahan dengan cara membakar hingga merembet ke kawasan hutan. Menurutnya, tindakan semacam ini merupakan tindak kriminal yang pelakunya harus segera ditindak tegas.
Kendati demikian, faktor alam turut menjadi porsi pertimbangan. Di tengah musim kemarau yang panjang, fenomena iklim seperti El Nino terbukti memperparah situasi dengan memicu gelombang panas ekstrem yang mempermudah penyebaran api.
“Ke depan, fokus utama kami adalah menginventarisasi situs-situs yang terdampak secara riil, lalu merumuskan langkah revitalisasi dan restorasi yang komprehensif,” pungkasnya.