Presiden AS Donald Trump Ingin Terlibat Penunjukan Pemimpin Baru Republik Iran

ABATANEWS.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi global. Itu setelah ia menyatakan dirinya harus memiliki peran dalam menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi Iran berikutnya.
Dalam wawancara yang dilaporkan Reuters dan Axios, Trump secara tegas mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak bisa hanya menjadi penonton dalam proses suksesi kepemimpinan Iran.
Bahkan, Trump secara langsung menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, untuk menggantikan ayahnya. Ia menyebut Mojtaba sebagai sosok yang “tidak dapat diterima” dan “tidak berbobot” untuk memimpin Iran.
“Putra Khamenei tidak berpengaruh. Saya harus terlibat dalam penunjukan tersebut, seperti halnya dengan Delcy,” kata Trump kepada Axios.
Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan kembali berperang dalam lima tahun jika Iran memiliki pemimpin yang tak disukai Washington.
“Kita membutuhkan seseorang yang dapat membawa stabilitas dan perdamaian,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta spekulasi mengenai masa depan kepemimpinan Iran setelah wafatnya Ali Khamenei dalam konflik terbaru di kawasan tersebut.
Namun secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran sebenarnya dipilih oleh Assembly of Experts, lembaga ulama yang memiliki kewenangan penuh untuk menunjuk pemimpin tertinggi negara itu.
Karena itu, pernyataan Trump langsung memicu perdebatan internasional. Banyak pengamat menilai pernyataan tersebut dapat memperburuk ketegangan antara Washington dan Teheran serta memicu reaksi keras dari Iran.
Situasi ini membuat dunia kini menyoroti dengan cermat siapa yang akan menjadi pemimpin tertinggi Iran berikutnya, sebuah posisi yang memiliki pengaruh besar terhadap arah politik dan keamanan di Timur Tengah.