Mengenal Fauziah Zulftri, PCC Calon Ketua ILUNI UI Sulawesi Selatan

Mengenal Fauziah Zulftri, PCC Calon Ketua ILUNI UI Sulawesi Selatan

ABATANEWS, MAKASSAR – 17 Oktober 2026 menjadi awal baru kepemimpinan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) yang akan digelar melalui Musyawarah Wilayah (Muswil) I di Makassar. Diketahui bersama, ILUNI UI (Ikatan Alumni Universitas Indonesia) berdiri pada 2 Februari 1958.

Muncul sosok Wanita dengan pengalaman Profesional yang panjang yang manarik perhatian dalam perhelatan bursa Ketua ILUNI UI. Ia adalah Fauziah Zulftri., S.PSI., M.M., PCC, Wanita berdarah Luwu.

Fauziah Zulftri, S.PSI., M.M., PCC merupakan Alumni Universitas Indonesia, Founder Insight Indonesia, Leadership Coach & Executive Mentor, dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia korporasi, human capital, leadership, dan pengembangan organisasi.

Membaca rekam jejak tersebut, kita sama sama yakin bahwa kehadirannya akan membawa semangat untuk menjadikan ILUNI UI Sulawesi Selatan sebagai rumah bersama sekaligus ekosistem kolaborasi alumni — lintas generasi, profesi, industri, dan keilmuan.

Berbasis di Makassar, dengan pengalaman profesional dan jejaring yang dibangun dari Sulawesi Selatan hingga berbagai wilayah Indonesia. Setelah lebih dari dua dekade perjalanan profesional dan satu dekade membangun Insight Indonesia dari Timur Indonesia, kini saatnya memberi kembali kepada almamater dan komunitas alumni.

Baginya, ILUNI bukan hanya tentang silaturahmi. ILUNI memiliki potensi besar untuk menghubungkan alumni, membuka peluang kolaborasi, mendukung generasi berikutnya, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi Sulawesi Selatan.

Dengan membangun organisasi yang inklusif, kolaboratif, profesional, dan berdampak — mempertemukan kekuatan alumni senior dan muda, memperluas jejaring lintas sektor, serta mengubah koneksi menjadi kontribusi.

Fauziah Zulftri, S.PSI., M.M., PCC, selalu menekankan bahwa ILUNI UI ; Dari Alumni , bersama alumni, untuk memberi dampak yang lebih besar

Setiap alumni membawa cerita: ilmu yang dulu dipelajari di bangku kuliah, pengalaman kerja yang terus bertambah, dan jaringan yang tumbuh seiring waktu. Jika semua itu hanya tersimpan sendiri-sendiri, dampaknya terbatas. Jika dikumpulkan dalam satu semangat, dampaknya bisa jauh lebih besar.

Dari alumni, karena kekuatan terbesar sebuah almamater ada pada orang-orangnya. Di antara kita ada profesional, wirausahawan, pendidik, peneliti, dan pegiat sosial yang sudah membuktikan diri di bidang masing-masing. Pengalaman mereka adalah sumber belajar yang nyata bagi adik-adik yang baru memulai.

Bersama alumni, karena tidak ada langkah besar yang berhasil dilakukan sendirian. Saat kita saling terhubung lewat mentoring, berbagi peluang kerja, kolaborasi usaha, atau aksi sosial bersama, satu kebaikan kecil berubah menjadi gerakan. Persaudaraan sesama alumni bukan sekadar nostalgia, tetapi modal sosial yang bisa menggerakkan perubahan.

Untuk dampak yang lebih besar, karena tujuan akhirnya bukan reuni atau nama besar, melainkan manfaat nyata: membuka akses pendidikan bagi yang membutuhkan, memperkuat kesiapan kerja lulusan baru, dan membantu masyarakat sekitar bertumbuh. Dari alumni, kembali untuk bangsa.

Baca Juga