Kenangan Sejarah di Malam Ramah Tamah Napak Tilas Rute Andi Mattalatta Garongkong – Paccekke

ABATANEWS, BARRU – Dalam suasana sejuk dengan gerimis ringan, Andi Ilhamsyah Matalatta menyampaikan sambutan penuh makna pada peringatan Malam Ramah Tamah Napak Tilas Rute Andi Mattalatta Garongkong – Paccekke, di Lapangan Monumen Paccekke, Sabtu malam (29/11/2025).
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa lokasi Paccekke dan rangkaian Napak Tilas ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi pengingat sejarah besar yang menentukan arah perjuangan bangsa, khususnya kontribusi pemuda Sulawesi Selatan.
Andi Ilham menjelaskan bahwa para pejuang Sulawesi Selatan yang berangkat dari Jawa pada 18 Desember 1946 telah lebih dulu bergabung dengan Tentara Republik Indonesia (TRI). Keberangkatan mereka terjadi pada masa sulit, ketika Belanda menolak mengakui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan kembali melancarkan agresi militernya.
“Perjuangan mereka bukan perkara sederhana. Mereka menyeberangi lautan tanpa kepastian, tanpa peralatan memadai, hanya berbekal tekad merdeka atau mati,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bagaimana Jenderal Besar Sudirman kemudian menugaskan Andi Mattalatta untuk kembali ke Sulawesi guna membentuk pasukan TRI di wilayah yang saat itu masih dikuasai Belanda.
Pendaratan pasukan pada 31 Desember 1946 dipilih pada malam pergantian tahun agar luput dari pengawasan pasukan Belanda yang tengah merayakan malam tahun baru. Namun perjalanan menuju Paccekke tetap penuh pertempuran.
“Dari pendaratan hingga Konferensi Paccekke tanggal 21 Januari 1947, banyak benturan terjadi di darat maupun laut. Banyak rombongan ekspedisi yang bahkan ditenggelamkan fregat Belanda,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kisah perjuangan Andi Sirifin, yang gugur secara heroik setelah markas tempatnya dirawat diserang pasukan Belanda. “Tubuhnya penuh luka, wajahnya hampir tidak dikenali. Begitu besar pengorbanan mereka.”
Kepada para peserta Napak Tilas dan generasi muda, ia berharap momentum ini tidak hanya dinikmati sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai kesempatan untuk memahami kedalaman perjuangan para pejuang.
“Jangan kita sia-siakan hasil kemerdekaan yang kita nikmati sekarang. Mereka meninggalkan zona nyaman, berjuang tanpa kepastian. Kita tinggal menjaga, menghayati, dan meneruskan.”
Pada kesempatan Ia juga menyerahkan buku Meniti Siri dan Harga Diri :memoar Andi Mattalatta kepada Kajendam XIV/Hasanuddin, Bupati Barru dan Wakil Bupati Barru. Ia menceritakan bahwa penulisan buku tersebut pun tidak mudah karena Andi Mattalatta enggan menulis kisah perjuangannya jika berpotensi menyinggung pihak lain, hingga akhirnya diyakinkan oleh Prof. Salim Said dan sejumlah tokoh.
“Semoga sejarah ini terus menjadi pengingat dan inspirasi bagi generasi kita. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutupnya.