Dispus Arsip Sulsel Gandeng Unhas Hadirkan Student Goes to Archives, Perkuat Riset Berbasis Arsip

Dispus Arsip Sulsel Gandeng Unhas Hadirkan Student Goes to Archives, Perkuat Riset Berbasis Arsip

ABATANEWS, MAKASSAR – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan meluncurkan program Student Goes to Archives, sebuah pendekatan baru untuk mengenalkan arsip kepada kalangan akademisi dengan mengajak mahasiswa belajar langsung dari arsip autentik sebagai sumber pembelajaran dan penelitian.

Berbeda dengan konsep sebelumnya, Arsip Goes to Campus, program ini mendorong mahasiswa datang langsung ke lembaga kearsipan sehingga dapat memanfaatkan arsip sebagai sumber data primer sekaligus memahami pentingnya pelestarian memori kolektif daerah.

Peluncuran program ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, dan komunitas Arsip Timur di FIB Unhas, Makassar, Senin (29/6/2026).

Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Prof Muhammad Jufri, mengatakan perubahan konsep dilakukan karena arsip merupakan dokumen autentik yang harus dijaga keasliannya sehingga tidak memungkinkan dipindahkan ke luar ruang penyimpanan.

“Awalnya konsep kami memang Arsip Goes to Campus, tetapi kami ubah menjadi Student Goes to Archives karena arsip tidak boleh dibawa keluar. Arsip harus tetap berada di tempat penyimpanannya agar keaslian atau autentisitasnya terjaga dan tidak rusak akibat terlalu sering dipindahkan atau disentuh,” kata Jufri.

Melalui konsep tersebut, mahasiswa didorong datang langsung ke UPT Jasa Kearsipan untuk memanfaatkan koleksi arsip sebagai sumber data primer. Saat ini Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel mengelola 48 khazanah arsip statis bernilai sejarah yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan, dan literasi publik sesuai prosedur layanan.

Menurut Jufri, kerja sama tersebut memperkuat kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas dalam meningkatkan pemanfaatan arsip sebagai sumber informasi ilmiah bagi dosen, mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat.

“Kampus memiliki dosen, peneliti, mahasiswa, dan akademisi yang membutuhkan data primer. Arsip menjadi salah satu sumber paling autentik untuk penyusunan skripsi, tesis, disertasi, maupun penelitian sejarah,” ujarnya.

Program Student Goes to Archives juga akan diperluas ke sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan, antara lain Universitas Negeri Makassar, UIN Alauddin Makassar, Universitas Muslim Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Makassar, serta menyasar siswa SMA dan SMK di berbagai daerah.

Sementara itu, Kepala UPT Jasa Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, Mustaana, mengatakan program tersebut bertujuan memperkenalkan arsip kepada generasi muda sekaligus mengubah persepsi bahwa arsip bukan sekadar tempat penyimpanan dokumen lama, melainkan sumber informasi primer yang bernilai sejarah, hukum, dan akademik.

“Selama ini arsip sering dipandang hanya sebagai tempat menyimpan dokumen lama. Padahal, arsip merupakan sumber informasi primer yang memiliki nilai sejarah, hukum, dan akademik. Melalui Student Goes to Archives, kami ingin memperkenalkan fungsi itu secara langsung kepada mahasiswa,” ungkapnya.

Melalui pendekatan baru tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel berharap lembaga kearsipan menjadi ruang belajar, pusat riset, sekaligus laboratorium sejarah yang terbuka bagi masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan generasi muda.

Berita Terkait
Baca Juga