BPS Catat Inflasi Sulawesi Selatan September 2026 Tembus 3,75 Persen

BPS Catat Inflasi Sulawesi Selatan September 2026 Tembus 3,75 Persen

ABATANEWS, MAKASSAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) sebesar 3,75 persen pada September 2026. Angka tersebut didorong oleh kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,72 pada September 2025 menjadi 112,80 pada September 2026.

Berdasarkan rilis BPS Sulsel yang dikutip Rabu (7/10/2026), kenaikan inflasi tahunan (y-on-y) tersebut dipicu oleh peningkatan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,16 persen.

Disusul kelompok transportasi sebesar 3,74 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,16 persen. Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (2,03 persen).

Kemudian aerumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (1,52 persen), kesehatan (1,41 persen) kelompok pakaian dan alas kaki (0,5 persen). Serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,95 persen, kelompok pendidikan sebesar 2,78 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,91 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,74 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan Inflasi y-on-y pada September. Antara lain emas perhiasan sebesar 0,56 persen, cabai rawit sebesar 0,34 persen, daging ayam ras sebesar 0,18 persen, bensin sebesar 0,15 persen, minyak goreng sebesar 0,12 persen, nasi dengan lauk sebesar 0,12 persen, ikan layang/ ikan benggol sebesar 0,11 persen, sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,11 persen, sewa rumah sebesar 0,09 persen, pelumas/oli mesin sebesar 0,08 persen dan telepon seluler sebesar 0,08 persen.

Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m pada September 2026, antara lain cabai rawit sebesar 0,21 persen, daging ayam ras sebesar 0,16 persen, telur ayam ras sebesar 0,05 persen, tomat sebesar 0,04 persen, pemeliharaan/service sebesar 0,03 persen, ikan bandeng/ikan bolu sebesar 0,02 persen, bahan bakar rumah tangga sebesar 0,02 persen, tarif kendaraan roda 2 online sebesar 0,01 persen, cumi-cumi sebesar 0,01 persen, dan akademi/perguruan tinggi sebesar 0,01 persen.

Pada September 2026, kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan Inflasi y-on-y. Yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,60 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,04 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,22 persen, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,12 persen.

Kemudian kelompok kesehatan sebesar 0,03 persen, kelompok transportasi sebesar 0,47 persen, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,13 persen. kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen. Menyusul kelompok pendidikan sebesar 0,10 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,30 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,71 persen.

Berita Terkait
Baca Juga