Atlet Uganda Meninggal Dunia Usai Bakar Pacarnya, Tetangga: Saya Tak Bisa Makan Berhari-hari

Atlet Uganda Meninggal Dunia Usai Bakar Pacarnya, Tetangga: Saya Tak Bisa Makan Berhari-hari

ABATANEWS, JAKARTA — Rebecca Cheptegei, seorang pelari maraton Uganda yang baru saja bertanding di Olimpiade Paris, meninggal dunia setelah mengalami luka bakar parah akibat aksi brutal kekasihnya di Kenya. Atlet berusia 33 tahun ini menjadi korban kekerasan dalam hubungan yang berakhir tragis, menyoroti masalah serius yang kerap diabaikan: kekerasan terhadap perempuan.

Insiden mengenaskan ini terjadi di kediamannya, di mana tetangganya, Agnes Barabara, menjadi saksi langsung momen mengerikan ketika Rebecca, dengan tubuh terbakar, berlari meminta pertolongan.

“Dia berteriak ‘tolong saya’ sambil berlari ke arah rumah saya,” ujar Agnes sambil menangis, mengenang detik-detik Rebecca disiram bensin oleh pelaku yang kemudian ikut terbakar saat mencoba melarikan diri ke taman, melansir BBC.

Rebecca, yang dikenal sebagai pribadi baik dan murah hati di lingkungannya, tewas setelah dirawat selama empat hari dengan luka bakar di lebih dari 75 persen tubuhnya. Tragedi ini bukan hanya menorehkan duka mendalam bagi dunia olahraga Uganda, tetapi juga menambah daftar panjang kekerasan terhadap perempuan di Kenya, di mana ia menjadi atlet perempuan terkemuka ketiga yang tewas sejak 2021.

Kasus ini kini ditangani sebagai pembunuhan oleh pihak berwenang, dengan kekasih Rebecca sebagai tersangka utama. Perselisihan mengenai kepemilikan tanah diduga menjadi latar belakang peristiwa tragis ini. “Penyelidikan sudah pada tahap lanjut,” kata Kennedy Apindi, petugas investigasi kriminal yang menangani kasus ini.

Presiden Komite Olimpiade Uganda, Donald Rukare, menyampaikan belasungkawa di media sosial, sambil mengecam keras kekerasan terhadap perempuan. “Semoga jiwanya beristirahat dengan tenang,” tulisnya di X.

Kasus Rebecca Cheptegei tidak hanya membuka mata kita akan bahaya kekerasan dalam hubungan, tetapi juga menjadi panggilan bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih serius menangani dan mencegah kekerasan berbasis gender yang kian meningkat.

Baca Juga